Kajian Artikel Ilmiah “Modeling What
Friendship Patterns on Facebook Reveal About Personality and Social Capital”
Judul Asli :
Modeling What Friendship
Patterns on Facebook Reveal About Personality and Social Capital
Penulis :
YONG LIU, JAYANT
VENKATANATHAN, JORGE GONCALVES, EVANGELOS KARAPANOS, VASSILIS KOSTAKOS
URL :
Abstrak :
In this study, we demonstrate how analysis of users’
social network structure—a topic that has remained until recently inconspicuous
within Human-Computer Interaction (HCI) research on social systems—can contribute
to our understanding of Social Networking Services (SNS) effect on users.
Despite a consensus that SNS enhance people’s social capital, prior studies on
SNS have provided inconsistent evidence on this process. In a multipronged
study, we analyze personality, social capital, and Facebook data from a cohort
of participants to model the extent to which one’s SNS reflects aspects of his
or personality and affects his bridging social capital. Our empirically
validated model shows that empathy and conscientiousness influence the
structural holes in one’s social network, which in turn affects bridging social
capital. These findings highlight the importance of network structure as an
intermediary between one’s personality and the social benefits one reaps from
using SNS. Our work demonstrates how the implicit structural information
embedded in users’ social networks can provide key insights into users’
personality and social capital.
Categories and Subject Descriptors: J.4 [Computer
Applications]: Social and Behavioral Sciences— Sociology; E.1 [Data]: Data
Structures—Graphs and networks; H.5.2 [Information Interfaces and
Presentation]: User Interfaces—Theory and methods
General Terms: Experimentation, Theory
Additional Key Words and Phrases: Network structure,
personality, social capital, structural holes, empathy, conscientiousness,
Facebook
Pengkaji :
Muhammad
Reza Kahfi
Kajian :
Media
sosial saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi hampir seluruh kalangan masyarakat
modern. Melalui media sosial, penggunanya dapat saling berkomunikasi, berbagi
pengetahuan dan pengalaman, menambah teman baru, bahkan untuk mencari hiburan.
Salah satu dari sekian banyak media sosial yang dapat menawarkan pengalaman
tersebut adalah Facebook. Pada artikel ini, penulis meneliti bagaimana struktur
jejaring sosial, dalam hal ini adalah pola pertemanan, dapat membantu untuk
memahami kepribadian dan efek sosial dari jejaring sosial tersebut pada
penggunanya.
Penulis
memilih Facebook sebagai bahan uji didasari dari sumber yang dicantumkan
penulis, bahwa Facebook merupakan website
dengan pengunjung terbanyak kedua setelah Google. Terhitung dari tahun 2012,
ada lebih dari 1 milyar aktivitas tiap bulannya lewat Facebook. Penulis
mencantumkan dalam artikelnya, bahwa waktu yang dihabiskan pengguna ketika
mengakses Facebook berkaitan dengan perasaan dan kesepian. Pengguna yang sering
mengakses ternyata memiliki kecenderungan tidak akrab dengan keluarganya
sendiri daripada yang bukan pengguna. Selain itu, ada beberapa penelitian lain
sejenis yang dicantumkan penulis yang bersumber dari artikel artikel lain yang
digunakan sebagai referensi. Jika disimpulkan dari berbagai penelitian tersebut,
ada empat cara yang dapat digunakan
untuk mengevaluasi penggunaan Facebook. Cara tersebut yaitu melalui (i) konten
yang dipilih atau ditanggapi pengguna dari temannya, (ii) profil dan (iii) foto
pengguna lain yang dilihat, juga (iv) jumlah pengguna memuat ulang halaman
utamanya.
Pada artikel
ini, penulis menggunakan beberapa pendekatan untuk menyelidiki keterkaitan
antara kepribadian dan media sosial melalui pola interaksinya. Penulis
menggunakan kuisioner dan aplikasi yang dikembangkan sendiri untuk mengambil
semua informasi dari setiap interaksi yang ada di Facebook para partisipan.
Melalui data tersebut, penulis dapat menggambarkan struktur jaringan relasi
partisipan menggunakan grafik. Satu kesimpulan yang ditarik penulis berdasarkan
data-data tersebut adalah bahwa sifat yang dimiliki seseorang tidak secara
langsung mempengaruhi modal sosial seseorang, melainkan mempengaruhi struktur
atau pola interaksi dalam media sosial. Struktur atau pola tersebutlah yang
kemudian mempengaruhi modal sosial seseorang. Modal sosial atau Social Capital dalam artikel ini
diartikan sebagai sekumpulan norma informal yang dimiliki seseorang untuk
menjalin kerjasama lewat interaksi baik langsung maupun lewat media, dalam hal
ini adalah media sosial online.
Penulis
mengambil tiga faktor yang ada pada modal sosial, yaitu Empathy atau empati, Bridging
Social Capital atau hubungan antar modal sosial, dan Conscientiousness atau sifat hati-hati. Kemudian ketiga faktor itu
dikaitkan dengan faktor lain yang berperan besar dalam interaksi jejaring
sosial. Faktor tersebut adalah Education
atau pendidikan, Popularity atau
popularitas, dan Structural Holes
atau sebuah “lubang” dari adanya ketidakterkaitan interaksi antara relasi yang
dimiliki seseorang dengan relasi lainnya. Hubungan antar faktor tersebut
diilustrasikan melalui gambar berikut.
| Gambar 1 Hubungan antara faktor-faktor pada modal sosial dan interaksi jejaring sosial |
Terdapat
beberapa batasan yang diakui penulis dalam penelitian ini. Di antaranya adalah
pemilihan usia yaitu ada di rentang 23 sampai 33 tahun dan pemilihan partisipan
yang memang berniat ingin berpartisipasi, bukan diambil secara acak. Selain
itu, penelitian yang menggunakan kepribadian sebagai tolak ukur seperti ini
tidak bisa menjadi acuan yang objektif. Ada kemungkinan partisipan memberikan
jawaban yang kesannya “lebih baik” dari sifat aslinya, yang tentunya dapat
mempengaruhi hasil penelitian.
Melalui
penelitian ini, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil. Sifat atau
kepribadian tidak serta merta mempengaruhi modal sosial, tapi akan berpengaruh
kepada struktur interaksi jejaring sosial online, dalam hal ini relasi teman
dalam Facebook, yang kemudian akan berdampak ke modal sosial. Penulis
berpendapat bahwa struktur tersebut berperan sebagai media yang penting untuk
pembentukan modal sosial. Penulis juga menyatakan bahwa pendekatan yang
dilakukan pada penelitian ini, di antaranya kuisioner dan aplikasi, masih memiliki potensi untuk menjadi sumber data bagi penelitian lebih lanjut untuk memahami perilaku pengguna
dalam penggunaan media sosial online.

Saya setuju mengenai artikel ini, dalam medsos kepribadian tidak mencirikan seperti apa yang punya akun di medsos..... kajian yang menarik
ReplyDeleteSangat berguna untuk memahami kepribadian dan efek sosial dari jejaring sosial pada user.
ReplyDeleteNamun yang jadi masalah untuk sekarang.
ReplyDeletebanyak orang yang mampu berinteraksi sedemikian pintar dengan orang lain di dunia maya namun didunia nyata masih sangat kesulitan.
by the way nice artikel gan.
keren nih pembahsannya. Terkadang sifat seseorang memang sangat bertolak belakang pada saat di dunia nyata dan di dunia maya. Apalagi para gamers online yg banyak bicara, tapi padahal di dunia nyatanya pendiam.
ReplyDeletenice gan.
bener gan, memang benar kepribadian tidak dapat ditinjau begitu saja. namun, terkadang ada juga yang mencirikan kepribadian seseorang walau tidak seratus persen. yang jelas tidak asal menilai saja haha.. nice info gan..
ReplyDeletekajian yang sangat bagus, jadi tahu kepribadian seseorang juga dapat menghasilkan karya yang hebat seperti facebook.
ReplyDeleteSetuju sama peneiltinya, hasil penelitian yang cuma berdasar data online tidak pernah bisa akurat, karena peneliti tidak pernah bertemu secara langsung dengan partisipan. N saya juga setuju kalau kepribadian lebih berpengaruh thd interaksi di jaringan sosmed-nya..
ReplyDeletekepribadiaan seseorang memang belum tentu berpengaruh terhadap interaksi pada dunia maya, karena terkadang ada sebagian orang yang berkepribadian diam namun saat di jejaring sosial bicara, hal kemungkinan dapat diakibatkan dari faktor lingkungan seseorang.
ReplyDeleteSaya setuju banget dengan hasil penelitian ini. Kepribadian seseorang belum tentu mempengaruhi kemampuannya dalam jejaring sosial, tetapi berpengaruh dengan bagaimana cara dia berinteraksi dalam media sosial itu sendiri.
ReplyDelete